Sudah berbulan-bulan vakum bercerita. Ada kesibukan-kesibukan yang akhirnya menguras tenaga dan menghilangkan ide u/ bercerita:-)
Sekarang kita lanjutkan kisah kita:-). Setelah berbulan-bulan mengajukan pengunduran diri. Akhirnya aku resmi keluar dari sekolah tersebut.
Aku off kerja hanya beberapa bulan saja setelah itu mendapatkan tawaran u/ mengajar di SMPN 2, salah satu skul favorit di kota ini. Awalnya hanya menjadi pengganti sementara karna guru PN yg bersangkutan cuti hamil, ya I tought it wouldn't take long time so I took it.
Aku sedikit merasa tidak confident u/ mengajar di kelas2 tersebut karena kelas yg mesti aku ajar adalah kelas bilingual. Sudah hampir 2 tahun aku mengajar di kelas-kelas yg menguras pikiran bagaimana cara mengajarnya.
Namun dgn dukungan dan kepercayaan dari guru-guru,akhirnya aku pun mengajar. Awalnya cukup nervous karna harus beradaptasi dgn cpt karena aku masuk sudah di pertengahan semester dan harus kejar tayang u/ ulangan semester. Untuk kelas bilingual cukup baik semestara kelas reguler dgn cepat menjadi akrab,mungkin krn perbedaan dgn kelas2ku sebelumnya tdk jauh berbeda dan di kelas2 ini tuntutannya tdk sebyk di kelas bilingual. Namun begitu kami saling belajar beradaptasi dgn keberadaan masing2 dan perubahan2 kecil. Hal2 kecil dimana aku memposisikan diri sbg guru yg lbh suka berteman dari pada menjadi guru yg menggurui. Aku memberikan kebebasan pd mereka u/ menjadi seperti apa yg mereka mau. Akhirnya mereka menjadi merasa nyaman menjadikanku teman:-).
Ada begitu byk hal2 tak terduga yg mengundang tawa dlm kebersamaan itu. Cerita yang entah bgmn mengatakannya dan kini telah menjadi kenangan.
Tanpa terasa tiga bulan pun berlalu dgn cepat. Say good bye telah dilakukan. Rasa senang akan bebas tugas pun bergelayut manja. Sayangnya keberadaanku tetap di pertahankan. Aku masih diminta u/ tetap mengajar. Namun begitu,aku tetap melakukannya dgn sebaik yg aku bisa. Aku memberi motivasi pd diriku sendiri u/ belajar lebih lagi disini.
Ini tentang cerita dalam perjalanan seorang nona guru menjadi seorang pengabdi dan berbagi ilmu bersama para malaikat kecil yang mampu menghadirkan sejuta rasa yang tak terurai dengan kata.
Sabtu, 23 Januari 2010
Rabu, 16 September 2009
Tentang tantangan dan kenyataan 2
Dunia yg aku pikir tidak ada trik dan rekayasa. Dunia yg aku pikir tidak tersentuh dgn kepalsuan dan trik politik. Ternyata aku salah besar. Kenyataan itu terpapar nyata dihadapanku. Dadaku sesak. Airmataku hampir saja menderu berteriak dan berkejaran keluar. Hatiku bertanya. Lalu apa yg aku lakukan selama ini? Untuk apa? Lalu untuk ada absen dan penilaian harian jika akhirnya semua lulus demi reputasi sekolah dan nama kota. Aargghh...aku kecewa. Apa yg aku lakukan selama ini terasa sia-sia. Seakan-akan hilang,terhapus dan melayang.
Lalu apa yg kita dapatkan? Kenyataan bahwa inilah dunia yg aku geluti selama ini. Kepalsuan yg nyata hadir diantara kepingan mutiara yg sesungguhnya. Menghasilkan kemalasan dan kebodohan yg tak terkira. Karena anak-anak itu mampu melihat dan menilai dia yg bodoh saja tetap lulus dan ijasah miliknya. Tak perlu jadi rajin dan pandai. Cukup begini saja. Aku terpaku. Idealismeku terkunci dikepalaku dan aku terjebak di tempat itu. Lalu siapa yg perduli pada itu?
Arrggh aku tidak bisa terus disini. Aku tidak mau terjebak lagi disini.
Akhir tahun ajaran, akupun mengundurkan diri. Beberapa guru senior memahami kegelisahan jiwaku akan apa yg telah berlaku dan mereka mau aku tak lagi kembali ketempat itu.
Usai sudah kisahku ditempat itu pada hari itu.
Lalu apa yg kita dapatkan? Kenyataan bahwa inilah dunia yg aku geluti selama ini. Kepalsuan yg nyata hadir diantara kepingan mutiara yg sesungguhnya. Menghasilkan kemalasan dan kebodohan yg tak terkira. Karena anak-anak itu mampu melihat dan menilai dia yg bodoh saja tetap lulus dan ijasah miliknya. Tak perlu jadi rajin dan pandai. Cukup begini saja. Aku terpaku. Idealismeku terkunci dikepalaku dan aku terjebak di tempat itu. Lalu siapa yg perduli pada itu?
Arrggh aku tidak bisa terus disini. Aku tidak mau terjebak lagi disini.
Akhir tahun ajaran, akupun mengundurkan diri. Beberapa guru senior memahami kegelisahan jiwaku akan apa yg telah berlaku dan mereka mau aku tak lagi kembali ketempat itu.
Usai sudah kisahku ditempat itu pada hari itu.
Tentang sebuah tantangan dan kenyataan.
Tahun ajaran baru,saat pembagian tugas mengajar; Aku terpana menatap lembaran surat keputusan kerja milikku. Aku mengajar kelas 3. Kelas 3. Kelas yg akan menghadapi ujian nasional dan diharapkan lulus semua. Oh great. Tentu saja penolakan dariku segera dilayangkan. Tapi sia-sia saja karena penolakanku ditolak mentah-mentah oleh kepsek dgn berbagai alasan. Atas dukungan berbagai pihak,aku pun mengambil tanggung jawab itu. Si nona guru yg tak berpengalaman. Anak baru yg tak tahu menahu tentang seluk beluk kekerasan jaman. Si nona guru yg baru saja ramai dibicarakan karena cinta muridnya. Dengan
begitu saja menggeser guru senior. Untung saja guru-guru seniornya mendukungku dan menyemangatiku. Bahwa aku bisa.
Hari pertama mengajar, detak jantungku berdegup tak berirama. Mungkin karena tak hendak mendapati surat kedua di hari pertama seperti 6 bulan yg lalu. Aku tidak mendapatkan surat cinta tp murid lelakiku bertampang 'n berkelakuan preman. Whoaa aku bergidik membayangkan apa yg terjadi jika mereka mengamuk maka remuklah aku dalam sekali banting hehehehe. Si nona guru yg kecil dan kerap kali disangka murid oleh para wali murid. Tapi aku tetaplah si nona guru yg punya the power u/ menghandle kelasku. Yang bermasalah ya anak-anak IPS. Anak lelaki pada awalnya sudah bertingkah ala preman meskipun tidak semuanya dan beberapa anak perempuan tidak menyukai aturan beretikaku pada mereka.
Sebuah beban moril terpampang diwajahku. Tugasku membuat perubahan kecil. Aku ingin mereka bisa berbahasa inggris. Mereka mengerti tentang etika. Aku mencoba melakukan yg terbaik. Dan apa yg aku lakukan tidaklah sia-sia. Motivasi mereka u/ belajar meningkat. Aku mencoba menyisihkan waktu mengajarku u/ bimbingan konseling. Diskusi terbuka tentang AIDS, HIV,NARKOBA, PERGAULAN BEBAS, SEX, PERCINTAAN dan MASALAH2 KECIL yg mengganggu. Cara ini cukup
efektif u/ memberi pengetahuan tanpa menggurui. Karena mereka menjadi terbuka. Bahkan lagu Jambrud pun dibawa di kelas ini. Aju mendapati ini berjalan baik. Anak-anak ini tidak lagi begitu stres menghadapi ujian dan ini membuatku bersemangat juga.
Tibalah waktu ujian. Aku mendapat tugas mengawas di sma lain. Dan para murid berceletuk. 'Hah beneran guru? Mudanya' hahahaha aku hanya bisa menahan senyum dan malu karena dikomentari begitu. Bukan salahku bukan miliki tubuh kecil dan wajah begini.
Aku baru menyadari telah memasuki dunia yg sebelumnya tak pernah kupahami dan mengerti.
begitu saja menggeser guru senior. Untung saja guru-guru seniornya mendukungku dan menyemangatiku. Bahwa aku bisa.
Hari pertama mengajar, detak jantungku berdegup tak berirama. Mungkin karena tak hendak mendapati surat kedua di hari pertama seperti 6 bulan yg lalu. Aku tidak mendapatkan surat cinta tp murid lelakiku bertampang 'n berkelakuan preman. Whoaa aku bergidik membayangkan apa yg terjadi jika mereka mengamuk maka remuklah aku dalam sekali banting hehehehe. Si nona guru yg kecil dan kerap kali disangka murid oleh para wali murid. Tapi aku tetaplah si nona guru yg punya the power u/ menghandle kelasku. Yang bermasalah ya anak-anak IPS. Anak lelaki pada awalnya sudah bertingkah ala preman meskipun tidak semuanya dan beberapa anak perempuan tidak menyukai aturan beretikaku pada mereka.
Sebuah beban moril terpampang diwajahku. Tugasku membuat perubahan kecil. Aku ingin mereka bisa berbahasa inggris. Mereka mengerti tentang etika. Aku mencoba melakukan yg terbaik. Dan apa yg aku lakukan tidaklah sia-sia. Motivasi mereka u/ belajar meningkat. Aku mencoba menyisihkan waktu mengajarku u/ bimbingan konseling. Diskusi terbuka tentang AIDS, HIV,NARKOBA, PERGAULAN BEBAS, SEX, PERCINTAAN dan MASALAH2 KECIL yg mengganggu. Cara ini cukup
efektif u/ memberi pengetahuan tanpa menggurui. Karena mereka menjadi terbuka. Bahkan lagu Jambrud pun dibawa di kelas ini. Aju mendapati ini berjalan baik. Anak-anak ini tidak lagi begitu stres menghadapi ujian dan ini membuatku bersemangat juga.
Tibalah waktu ujian. Aku mendapat tugas mengawas di sma lain. Dan para murid berceletuk. 'Hah beneran guru? Mudanya' hahahaha aku hanya bisa menahan senyum dan malu karena dikomentari begitu. Bukan salahku bukan miliki tubuh kecil dan wajah begini.
Aku baru menyadari telah memasuki dunia yg sebelumnya tak pernah kupahami dan mengerti.
Senin, 27 Juli 2009
Episode 3
Pengunduran diriku, aku utarakan secara lisan pada kepala sekolah dan ketua yayasan dan disaksikan beberapa staf guru. Mereka pun tetap pada keputusan tdk menerima pengunduran diriku. Mereka lebih siap mengeluarkan anak itu daripada menerima pengunduran diriku karena sesungguhnya bukan aku yg membuat skandal. Aku tidak mau masalah ini sampai membuat anak ini di drop out. Aku pun meminta waktu untuk bicara kembali dengannya. Mereka pun memfasilitasi pertemuan itu karena anak ini tidak lagi mau menemuiku hanya untuk mendengar penolakanku.
Ruang guru cukup sepi karena memang jam pelajaran tengah berlangsung. Hanya ada beberapa guru yang ada. Pembicaraan kami cukup panas karena ia sama sekali tidak mau menerima alasanku. Aku tahu ia pembicaraan ini berakhir dengan sia-sia. Yang tidak aku tahu adalah akhir dari pembicaraan ini seperti apa. Ia berdiri dan menggebrak mejaku,menatapku tajam seraya berkata; “Ibu tidak mengerti perasaanku”. Ia pun berlalu meninggalkanku dengan perasaan yg kacau balau dan syok. Tidak pernah seorangpun melakukan hal itu padaku sebelumnya. Mejaku digebrak dgn kemarahan, kepedihan,putus asa,merasa tdk dimengerti yang bersatu padu.
Tak pernah terpikir olehku kalau seorang muridku akan melakukan hal ini padaku. Seorang murid sma kelas 1 yg baru berumur 15 tahun,menggebrak mejaku seakan-akan aku telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Aku mencoba menahan airmataku dan tidak menangis. Menahan segala rasa yg bergolak dihatiku. Aku tidak berkata apa-apa. Aku bungkam karena jika satu kata saja terucap maka tangisku akan meledak. Guru yg menyaksikan kejadian itu pun bungkam. Ia hanya menatapku iba. Mungkin ia pun tak tahu hendak berkata apa dan sama syoknya dgnku atas apa yg baru saja berlaku.
Emosi dan kesiapan mentalku sungguh diuji kali ini. Pendalian diri dan pemahaman akan perasaannya dan berempati padanya. Mengajariku untuk tidak membenci dan menyerang balik atas apa yg ia lakukan padaku.
Setelah hari itu, ia mendapat surat peringatan keras dan harus mematuhi aturan jika tidak maka akan di drop out. Aku kembali menata hatiku yang sempat tergoyahkan dan hampir berantakan karena kejadian itu. Ia masuk kembali di kelasku tp hanya sekadar bayangan. Aku tdk mau mempermasalahknannya lagi. Ia masih mengirimiku sms tp bukan lg sms cinta tapi patah hati. Aku bergeming. Aku bungkam dan membiarkannya begitu. Karena ia tidak akan berhenti jika tetap kutanggapi. Perlahan kisah inipun terlewati waktu dan jadi kenangan.
Ruang guru cukup sepi karena memang jam pelajaran tengah berlangsung. Hanya ada beberapa guru yang ada. Pembicaraan kami cukup panas karena ia sama sekali tidak mau menerima alasanku. Aku tahu ia pembicaraan ini berakhir dengan sia-sia. Yang tidak aku tahu adalah akhir dari pembicaraan ini seperti apa. Ia berdiri dan menggebrak mejaku,menatapku tajam seraya berkata; “Ibu tidak mengerti perasaanku”. Ia pun berlalu meninggalkanku dengan perasaan yg kacau balau dan syok. Tidak pernah seorangpun melakukan hal itu padaku sebelumnya. Mejaku digebrak dgn kemarahan, kepedihan,putus asa,merasa tdk dimengerti yang bersatu padu.
Tak pernah terpikir olehku kalau seorang muridku akan melakukan hal ini padaku. Seorang murid sma kelas 1 yg baru berumur 15 tahun,menggebrak mejaku seakan-akan aku telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Aku mencoba menahan airmataku dan tidak menangis. Menahan segala rasa yg bergolak dihatiku. Aku tidak berkata apa-apa. Aku bungkam karena jika satu kata saja terucap maka tangisku akan meledak. Guru yg menyaksikan kejadian itu pun bungkam. Ia hanya menatapku iba. Mungkin ia pun tak tahu hendak berkata apa dan sama syoknya dgnku atas apa yg baru saja berlaku.
Emosi dan kesiapan mentalku sungguh diuji kali ini. Pendalian diri dan pemahaman akan perasaannya dan berempati padanya. Mengajariku untuk tidak membenci dan menyerang balik atas apa yg ia lakukan padaku.
Setelah hari itu, ia mendapat surat peringatan keras dan harus mematuhi aturan jika tidak maka akan di drop out. Aku kembali menata hatiku yang sempat tergoyahkan dan hampir berantakan karena kejadian itu. Ia masuk kembali di kelasku tp hanya sekadar bayangan. Aku tdk mau mempermasalahknannya lagi. Ia masih mengirimiku sms tp bukan lg sms cinta tapi patah hati. Aku bergeming. Aku bungkam dan membiarkannya begitu. Karena ia tidak akan berhenti jika tetap kutanggapi. Perlahan kisah inipun terlewati waktu dan jadi kenangan.
Minggu, 26 Juli 2009
Episode 2
Kisah cinta anak sma itu berlanjut. Usai menyatakan cintanya di ruang guru dan tak memperdulikan penolakkan halusku dengan memintaku memikirkan kembali permintaannya supaya aku mau menjadi kekasihnya. Kegigihannya patut diacungi jempol. Sayang ia salah tempat,waktu dan sasaran. Ia selalu hadir dikelasku dan menjadi proaktif. Dengan pandangan mata penuh cinta dan menggoda ala anak sma(sayangnya aku tidak tergoda,maaf ya:p). Terkadang aku merasa ini spt lelucon dr opera sabun. Aku tak hendak menjadi drama queen yg membuat sgalanya makin runyam. Gosip dilingkungan sekolah menyebar dgn segera. Aku seperti selebriti yg disorot atas skandal yg lakukan orang lain. Duniaku tiba-tiba menjadi begitu riuh. Aku menjaga sikap dan emosiku agar tetap stabil dan tidak terjebak pada kegilaan itu. Guru yg lain suka menggodaku karena dalam waktu 2 minggu saja sudah memiliki fan yang tergila-gila sampai nekat seperti itu. Aku tdk bangga tapi aku malu sekali. Sungguh-sungguh malu atas apa yg terjadi padaku.
Kebungkaman
kami atas apa yang dilakukannya semakin membuatnya merasa diatas angin. Ia melakukan banyak cara u/ mendapatkan simpati dariku. Sms penuh kata cinta. Akupun mencoba bicara padanya melalui media ini dan hasilnya tetap sia-sia. Ia kembali dipanggil menghadap padaku dan hasilnya tetap nol besar.
Ia tak mau perduli dan tetap pada keinginannya bahwa ia cinta padaku dan hendak menjadikanku kekasihnya. Aku speechless. Tiada kata yang bisa aku ungkapkan untuk menggambarkan rasaku. Aku benar-benar merasa tak mampu melewati ini dan memutuskan u/ mengundurkan diri.
Kebungkaman
kami atas apa yang dilakukannya semakin membuatnya merasa diatas angin. Ia melakukan banyak cara u/ mendapatkan simpati dariku. Sms penuh kata cinta. Akupun mencoba bicara padanya melalui media ini dan hasilnya tetap sia-sia. Ia kembali dipanggil menghadap padaku dan hasilnya tetap nol besar.
Ia tak mau perduli dan tetap pada keinginannya bahwa ia cinta padaku dan hendak menjadikanku kekasihnya. Aku speechless. Tiada kata yang bisa aku ungkapkan untuk menggambarkan rasaku. Aku benar-benar merasa tak mampu melewati ini dan memutuskan u/ mengundurkan diri.
Rabu, 22 Juli 2009
Episode 1
Live must go on. Kehidupan terus berlanjut. Pilihan hidup semakin kompleks. Kuliahku sudah hampir selesai dan tengah menyelesaikan proposal dan sungguh masa yang membosankan karena tanpa kegiatan. Sebuah tawaran kerja, mengajar disalah satu sma swasta aku terima.
Hari pertama detak jantungku seperti genderang yg saling berkejaran tanpa arah. Ini adalah pengalaman pertama mengajar di sma. Sungguh pengalaman yg belum pernah terbayangkan olehku.
Hari itu aku langsung diminta mengajar. Pengalaman pertama yg cukup membuat terpesona atas apa yg ditemui. Kesulitan itu terdeteksi sejak dini. Aku kembali mendapatkan low level,great. Kemudian ditengah pemberian materi aku menemukan sepucuk surat kaleng dari pengagum rahasia tanpa nama yg dibubuhi tanda tangan terselip dibukuku.
Aku membuka buku absensi lalu melihat siapa saja nama mereka yang berinisial W dan memendarkan pandangan ke seisi kelas itu. Aku mulai mendeteksi siapa pelakunya dan entah bagaimana caranya aku menemukan siapa dia. Aku tidak berkata apa pun dan hanya tersenyum. Aku tidak berniat mempermalukannya di dpn kelas. Aku melanjutkan kembali tugasku.
Usai pelajaran aku keluar dari kelas itu tanpa menyinggung sedikitpun tentang surat itu. Saat menuju ke kelas berikutnya, anak yang mengirim surat itu mensejajari langkahku dan meminta maaf. Do you know what? Anak ini adalah anak yg aku pastikan
sebelumnya dan ternyata benar. Ia berjanji padaku tidak lagi melakukannya.
Hari-hari selanjutnya adalah perjuangan. Mencoba untuk bertahan. Kesulitan yg hadapi adalah anak-anak ini kumpulan anak-anak yg tidak diterima disekolah negeri dgn kemampuan akademik yg tak usah dijelaskan. Atitude yang harus diajarkan kembali. Aku belajar mengerti dan memahaminya lalu mencoba memberi perubahan.
Suatu hari yang membuat semua kesiapanku menghadapi itu semua berhamburan,berlarian dan berkejaran hendak pergi.
Hari itu adalah hari Valentine. Hari yang seharusnya awal yang indah ataupun sebuah kelanjutan yang manis tp tidak untukku saat itu. Hari itu adalah awal dari mimpi burukku. Si W penulis surat kaleng itu menyatakan cinta padaku dihari valentine di ruang guru. Ya di ruang guru. Aku tak tau harus berkata apa. Anak-anak dari kelasnya berdesakan mengintip dari jendela. Ia segera berlalu dengan berkata: “Ibu pikirkan dulu jawabannya”. Ia berlalu dari ruangan dengan tersenyum dengan sorakan dari temannya. Duniaku? Aku malu. Baru 2 minggu mengajar sudah membuat gempar.
Hari pertama detak jantungku seperti genderang yg saling berkejaran tanpa arah. Ini adalah pengalaman pertama mengajar di sma. Sungguh pengalaman yg belum pernah terbayangkan olehku.
Hari itu aku langsung diminta mengajar. Pengalaman pertama yg cukup membuat terpesona atas apa yg ditemui. Kesulitan itu terdeteksi sejak dini. Aku kembali mendapatkan low level,great. Kemudian ditengah pemberian materi aku menemukan sepucuk surat kaleng dari pengagum rahasia tanpa nama yg dibubuhi tanda tangan terselip dibukuku.
Aku membuka buku absensi lalu melihat siapa saja nama mereka yang berinisial W dan memendarkan pandangan ke seisi kelas itu. Aku mulai mendeteksi siapa pelakunya dan entah bagaimana caranya aku menemukan siapa dia. Aku tidak berkata apa pun dan hanya tersenyum. Aku tidak berniat mempermalukannya di dpn kelas. Aku melanjutkan kembali tugasku.
Usai pelajaran aku keluar dari kelas itu tanpa menyinggung sedikitpun tentang surat itu. Saat menuju ke kelas berikutnya, anak yang mengirim surat itu mensejajari langkahku dan meminta maaf. Do you know what? Anak ini adalah anak yg aku pastikan
sebelumnya dan ternyata benar. Ia berjanji padaku tidak lagi melakukannya.
Hari-hari selanjutnya adalah perjuangan. Mencoba untuk bertahan. Kesulitan yg hadapi adalah anak-anak ini kumpulan anak-anak yg tidak diterima disekolah negeri dgn kemampuan akademik yg tak usah dijelaskan. Atitude yang harus diajarkan kembali. Aku belajar mengerti dan memahaminya lalu mencoba memberi perubahan.
Suatu hari yang membuat semua kesiapanku menghadapi itu semua berhamburan,berlarian dan berkejaran hendak pergi.
Hari itu adalah hari Valentine. Hari yang seharusnya awal yang indah ataupun sebuah kelanjutan yang manis tp tidak untukku saat itu. Hari itu adalah awal dari mimpi burukku. Si W penulis surat kaleng itu menyatakan cinta padaku dihari valentine di ruang guru. Ya di ruang guru. Aku tak tau harus berkata apa. Anak-anak dari kelasnya berdesakan mengintip dari jendela. Ia segera berlalu dengan berkata: “Ibu pikirkan dulu jawabannya”. Ia berlalu dari ruangan dengan tersenyum dengan sorakan dari temannya. Duniaku? Aku malu. Baru 2 minggu mengajar sudah membuat gempar.
Minggu, 19 Juli 2009
Kenangan
Hari-hari selama kurang lebih 4 bulang mengajar disini membuatku mengerti banyak hal. Bahwa menjadi seorang guru tidak hanya masuk ke kelas dan memberi materi lalu selesai. Tapi ada byk hal yg memerlukan rasa simpati, empati dan peduli didalamnya.
Anak-anak polos yang harus bekerja demi membantu orang tuanya. Jangan pernah berpikir akan mendapatkan pr yang diberikan akan dikerjakan.
Pernah suatu hari murid yang hadir hanya 3 org. Karena hari hujan dan entah apa lagi alasan yg lainnya tidak hadir. Aku hampir menangis karna merasa tidak mampu membuat seorang anak mengerti materi itu. Aku kehabisan
kata untuk menjelaskan dengan bahasa paling mudah. Materi yg harus diajarkan adalah materi kls 7 tapi buku teori pengajaran yang aku gunakan adalah buku taman kanak-kanak. Yang semestinya tidak menggunakan bahasa daerah untuk mengajar, kali ini digunakan. Jika sebelumnya aku memilih untuk tidak mengajar disekolah yang memiliki murid dengan kepandaian tak terduga. Kemudian berharap seandainya diberi kesempatan untuk mengajari mereka saja. Aku hampir tiba pada titik menyerah. Namun keinginanku membuat mereka bisa, jauh lebih besar daripada merasa tidak mampu. Aku belajar dan belajar menyesuaikan diri dengan keadaan. Aku pun menemukan caraku sendiri untuk menjadi bagian dari mereka.
Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Ada awal pasti ada akhir. Begitu juga masa praktek kamipun berakhir dengan banyak kisah didalamnya. Kami masing-masing mendapatkan pelajaran berharga dan nilai-nilai yang tentu tak tergantikan. Terimakasih atas perjalanan dan teman yg menyenangkan.
Anak-anak polos yang harus bekerja demi membantu orang tuanya. Jangan pernah berpikir akan mendapatkan pr yang diberikan akan dikerjakan.
Pernah suatu hari murid yang hadir hanya 3 org. Karena hari hujan dan entah apa lagi alasan yg lainnya tidak hadir. Aku hampir menangis karna merasa tidak mampu membuat seorang anak mengerti materi itu. Aku kehabisan
kata untuk menjelaskan dengan bahasa paling mudah. Materi yg harus diajarkan adalah materi kls 7 tapi buku teori pengajaran yang aku gunakan adalah buku taman kanak-kanak. Yang semestinya tidak menggunakan bahasa daerah untuk mengajar, kali ini digunakan. Jika sebelumnya aku memilih untuk tidak mengajar disekolah yang memiliki murid dengan kepandaian tak terduga. Kemudian berharap seandainya diberi kesempatan untuk mengajari mereka saja. Aku hampir tiba pada titik menyerah. Namun keinginanku membuat mereka bisa, jauh lebih besar daripada merasa tidak mampu. Aku belajar dan belajar menyesuaikan diri dengan keadaan. Aku pun menemukan caraku sendiri untuk menjadi bagian dari mereka.
Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Ada awal pasti ada akhir. Begitu juga masa praktek kamipun berakhir dengan banyak kisah didalamnya. Kami masing-masing mendapatkan pelajaran berharga dan nilai-nilai yang tentu tak tergantikan. Terimakasih atas perjalanan dan teman yg menyenangkan.
Langganan:
Postingan (Atom)